Friend of Islam Revotulion

Ada kesalahan di dalam gadget ini
Minggu, 01 Mei 2011

postheadericon Ayah Nabi Ibrahim, Bukan Azar Sang Pembuat Patung



Masalah di atas merupakan masalah yang kontroversial. Barangkali untuk
sebagian orang, masalah ini sudah selesai, dengan pengertian bahwa
ayah Nabi Ibrahim adalah kafir, penyembah sekaligus pembuat patung.
Dan kebanyakan dari kaum muslimin meyakini seperti itu. Padahal ada
sebagian mufassirin dan ulama yang berpendapat bahwa ayah nabi Ibrahim
seorang mukmin, paling tidak, ia hidup pada zaman fatrah . Sehingga ia
tidak bisa dikatakan kafir dan juga tidak bisa dikatakan beriman,
karena misi dan dakwah para nabi tidak sampai kepadanya.

Tulisan ini mencoba ingin mendobrak apa yang dianggap pasti
kebenarannya oleh mayoritas muslimin. Pertama ingin ditegaskan bahwa
kekufuran ayah nabi Ibrahim bukan bagian dari ajaran Islam yang
esensial ( al ma’lum minaddini bi al dharurah ), sehingga kekufurannya
masih bisa dikaji ulang. Dan kalau ada pendapat yang bertentangan
dengan pendapat mayoritas dalam masalah ini, maka jangan diartikan
sebagai pertentangan terhadap ajaran agama, karena, malah, bisa jadi
pendapat mayoritas yang keliru. Kedua bahwa untuk menilai seseorang
itu kafir tidak semudah membalik telapak tangan. Penilaian ini
sebenarnya hak Allah swt. dan dalam tataran syar’i membutuhkan
kehati-hatian. Termasuk diantaranya apakah Abu Thalib kafir atau mukmin ?

Dalil yang dijadikan sebagai dasar pengkafiran ayah nabi Ibrahim
adalah beberapa ayat yang menyebutkan Azar sebagai ” ab ” Ibrahim.
Misalnya ayat yang berbunyi, ” Ingatlah ( ketika ), Ibrahim berkata
kepada ” ab “nya Azar, ” Apakah anda menjadikan patung-patung sebagai
tuhan ?. Sesungguhnya Aku melihatmu dan kaummu berada pada kesesatan
yang nyata “.( al An’am 74 ).

Atas dasar ayat ini, ayah Ibrahim yang bernama Azar adalah seorang
kafir dan sesat. Kemudian ayat lain yang memuat permohonan ampun
Ibrahim untuk ayahnya ditolak oleh Allah dikarenakan dia adalah musuh
Allah ( al Taubah 114). Menarik kesimpulan dari ayat di atas dan
sejenisnya bahwa ayah nabi Ibrahim seorang kafir terlalu tergesa-gesa,
karena kata ” abun ” dalam bahasa Arab tidak hanya berarti ayah
kandung saja. Kata ini juga juga berarti, ayah tiri, paman, dan kakek.
Misalnya al Qur’an menyebutkan Nabi Ismail sebagai ” ab ” Nabi Ya’kub
as., padahal beliau adalah paman NabiYa’kub as.
“Adakah kalian menyaksikan ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda)
kematian, ketika ia bertanya kepada anak-anaknya, ” Apa yang kalian
sembah sepeninggalku ? “. Mereka menjawab, ” Kami akan menyembah
Tuhanmu dan Tuhan ayah-ayahmu, Ibrahim, Ismail dan Ishak, Tuhan yang
Esa, dan kami hanya kepadaNya kami berserah diri “.( al Baqarah 133 )
Dalam ayat ini dengan jelas kata “aabaaika ” bentuk jama’ dari ” ab “
berarti kakek ( Ibrahim dan Ishak ) dan paman ( Ismail ).
Dan juga kata ” abuya ” atau ” buya ” derivasi dari ” ab ” sering
dipakai dalam ungkapan sehari-hari bangsa Arab dengan arti guru, atau
orang yang berjasa dalam kehidupan, termasuk panggilan untuk almarhum
Buya Hamka, misalnya.

Dari keterangan ringkas ini, kita dapat memahami bahwa kata ” ab “
tidak hanya berarti ayah kandung, lalu bagaimana dengan kata ” ab “
pada surat al An’am 74 dan al Taubah 114 ?. Dengan melihat ayat-ayat
yang menjelaskan perjalanan kehidupan Nabi Ibrahim as. akan jelas
bahwa seorang yang bernama ” Azar “, penyembah dan pembuat patung,
bukanlah ayah kandung Ibrahim, melainkan pamannya atau ayah angkatnya
atau orang yang sangat dekat dengannya.

Pada permulaan dakwahnya, Nabi Ibrahim as. mengajak Azar sebagai orang
yang dekat dengannya, “Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan,
sesungguhnya setan itu durhaka Tuhan yang Maha Pemurah “.( Maryam 44 ).

Namun Azar menolak dan bahkan mengancam akan menyiksa Ibrahim.
Kemudian dengan amat menyesal beliau mengatakan selamat jalan kapada
Azar, dan berjanji akan memintakan ampun kepada Allah untuk Azar. “
Berkata Ibrahim, ” Salamun ‘alaika, aku akan memintakan ampun kepada
Tuhanku untukmu “.( Maryam 47 ).

Kemudian al Qur’an menceritakan bahwa Nabi Ibrahim as. menepati
janjinya untuk memintakan ampun untuk Azar seraya berdoa, ” Ya
Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan gabungkan aku bersama
orang-orang yang saleh. Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi
orang-orang yang datang kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang-orang
yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah ayahku ( abii
), sesungguhnya ia adalah termasuk golongan yang sesat. Jangnlah Kamu
hinakan aku di hari mereka dibangkitkan kembali, hari yang mana harta
dan anak tidak memberikan manfaat kecuali orang yang menghadapi Allah
dengan hati yang selamat “.(al Syua’ra 83-89 ).
Allamah Thaba’thabai menjelaskan bahwa kata ” kaana ” dalam ayat ke 86
menunjukkan bahwa doa ini diungkapkan oleh Nabi Ibrahim as. setelah
kematian Azar dan pengusirannya kepada Nabi Ibrahim as. ( Tafsir al
Mizan 7/163).

Setelah Nabi Ibrahim as. mengungkapkan doa itu, dan itu sekedar
menepati janjinya saja kepada Azar, Allah menyatakan bahwa tidak layak
bagi seorang nabi memintakan ampun untuk orang musyrik, maka beliau
berlepas tangan ( tabarri ) dari Azar setelah jelas bahwa ia adalah
musuh Allah swt. (lihat surat al Taubah 114 ) Kemudian pada perjalanan
kehidupan Nabi Ibrahim yang terakhir, beliau datang ke tempat suci
Mekkah dan mempunyai keturunan, kemudian membangun kembali ka’bah,
beliau berdoa, ” Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua walid- ku dan
kaum mukminin di hari tegaknya hisab “.( Ibrahim 41 ).

Kata ” walid ” hanya mempunyai satu makna yaitu yang melahirkan. Dan
yang dimaksud dengan ” walid ” disini tidak mungkin Azar, karena Nabi
Ibrahim telah ber-tabarri dari Azar setelah mengetahui bahwa ia adalah
musuh Allah ( al taubah 114 ). Dengan demikian, maka yang dimaksud
dengan walid disini adalah orang tua yang melahirkan beliau, dan
keduanya adalah orang-orang yang beriman. Selain itu, kata walid
disejajarkan dengan dirinya dan kaum mukminin, yang mengindikasikan
bahwa walid- beliau bukan kafir. Ini alasan yang pertama.

Alasan yang kedua, adalah ayat yang berbunyi, ” Dan perpindahanmu (
taqallub) di antara orang-orang yang sujud “.( al Syua’ra 219 ).
Sebagian ahli tafsir menafsirkan bahwa yang dimakasud dengan ayat ini
adalah bahwa diri nabi Muhammad saww. berpindah-pindah dari sulbi ahli
sujud ke sulbi ahli sujud. Artinya ayah-ayah Nabi Muhammad dari
Abdullah sampai Nabi Adam adalah orang-orang yang suka bersujud kepada
Allah. (lihat tafsir al Shofi tulisan al Faidh al Kasyani 4/54 dan
Majma’ al Bayan karya al Thabarsi 7/323 ).

Nabi Ibrahim a. beserta ayah kandungnya termasuk kakek Nabi Muhammad
saww. Dengan demikian, ayah kandung Nabi Ibrahim as adalah seorang
yang ahli sujud kepada Allah swt. .

0 komentar:

Search

Memuat...

About Me

Foto Saya
Admin Islam Revolution
Mari mencari ilmu bersama sama dengan tujuan yang sama, yaitu untuk mencapai Ridha-Nya. Amin :D
Lihat profil lengkapku

Visitor Revolution

Feedjit Revolution